Logo Background RSS

Rem yang Menyelamatkan

  • Written by Abu RusyadAbu Rusyad No Comments Comments
    Last Updated: December 16th, 2009

    Rem yang berjalan dengan baik tidaklah akan menghambat suatu perjalan, dan tidak pula menghambat perhubungan lalu-lintas jalan tapi mengamankan perjalanan, menghindarkan setiap bahaya yang mengancam, bahaya jurang ataupun tabrakan.

    Rasa malu yang wajar adalah suatu sifat yang sehat, ibarat sebuah rem yang kokoh, yang menjamin keselamatan sebuah kendaraan yang berjalan mencapai tujuannya dengan aman serta tentram.

    Salah satu hikmah yang terkandung dalam kitab-kitab agama sejak dahulu hingga sekrang berisi peringatan, serta nasehat yang dinasehatkan setiap Nabi dan Rasul yang kini telah menjadi peribahasa, ialah perihal sifat malu. Sebagai dinyatakan Rasulullah SAW :

    “INNA MIMMA ADRAKA NASU MIN KALAMI ‘nNUBUWWATI ULAIDZA LAM TAS TAHIFA ‘SHNA ‘MASYI’TA”

    Artinya : Sesungguhnya dari antara perkataan para Nabi terdahulu yang diketahui oleh ummat manusia, adalah : “APABILA ENGKAU TIDAK MEMPUNYAI MALU, BERBUATLAH APA YANG ENGKAU SUKAI”.

    Sabda Rasulullah SAW tersebut diatas, bukanlah suatu perintah agar kita menanggalkan rasa malu kemudin kita boleh berbuat sekehendak hati kita, bertindak sewenang-wenang tanpa batas, berlaku semaunya, tanpa tuntutan dan ikatan. Akan tetapi sabda Rasulullah SAW tersebut mengandung maksud serta arti bahwa sifat malu itu adalah suatu sifat yang patut dipupuk dan dipelihara. Sifat malu itu adalah rem yang kuat untuk menahan nafsu angkara manusia, mengurungkan maksud buruk serta niat jahat dan mengalihkannya kepada arah tujuan yang selaras dengan kebutuhan manusia serta kemanusiaan, menjauhkannya dari perbuatan keji dan mendekatkan kepada tingkah laku mulia serta terpuji.

    Jadi maksud ucapan Rasulullah SAW adalah teguran serta peringatan, bahwasanya malu itu adalah wadah bagi akhlak yang baik. Kehilangan sifat malu berarti wadah telah pecah, isinya tertumpah ruah dengan tak menentu.

    Orang yang tak memiliki rasa malu mustahil akan dapat memiliki sifat yang utama. Sebab, sifat malu yang ada pada dirinya itulah yang mencegah seseorang melakukan perbuatan-perbuatan rendah serta hina yang diakui dirinya akan menjadi aib bagi dirinya. Dan lebih utama lagi, sifat malu mencegah manusia daripada berbuat segala perkara yang dipandang jahat serta dosa oleh Allah Yang Maha Kuasa. kemudian sifat malulah yang mendorong orang untuk bekerja lebih giat serta lebih tekun, tanpa putus asa, dalam kebajikan dan kebaikan. Ia malu bila orang bersatu padu, sedangkan ia berseteru memperebutkan nafsu sendiri.

    Demikianlah, jika kita periksa dengan teliti setiap perbuatan maksiat, setiap perbuatan yang ingkar serta menyimpang dari kebenaran dan perikemanusiaan, hilang dari budi manusia serta akhlak mulia seperti pembunuhan, pemerkosaan hak milik orang, pencemaran kehormatan orang, tidak mengindahkan hak serta kebenaran, tidak mengindahkan pikiran-pikiran dan saran-saran yang baik, tidak menaruh perhatian agar nasehat guru serta orang tua dan beribu perbuatan mungkar serta angkara lainnya, adalah bersumber pada “Sebab kehilangan rasa malu”. Bila diri tidak merasa aib lagi berpakaian compang-camping, tak ada lagi arti patut bagi dirinya.

    Sudah beratus ribu peraturan dan undang-undang dikeluarkan setiap pemerintah didunia ini namun keangkaraan manusia bukan berkurang, malah bertambah. Perkembangan teknologi serta ilmu pengetahuan tidak melembutkan budi pekerti manusia, malah menambah buas dan garang. Tak ada tempat yang aman lagi meski tinggal didalam benteng baja yang kukuh. Tak ada tempat persembunyian lagi meski lari ke dasar bumi atau langit tinggi. Kemanakah hendaknya menyelamatkan diri bagi seoarang insan yang menghendaki ketentraman serta kedamaian?

    Bila ingin menghentikan perjalanan, kita mesti berani mengakhiri suatu perjalanan yang sedang berlangsung, kemudian memulai perjalanan yang baru. Untuk memulai sesuatu kita harus berani mengakhiri sesuatu. Dan permulaan kebaikan itu adalah menyudahi kejahatan. Akhir suatu tahun adalah awwal tahun berikutnya. Titik tolak amal sholeh itu dimulai dari saat meninggalkan amal salah. Permulaan itu adalah penghabisan. Permulaan kebaikan artinya penghabisan kejahatan.

    Mengapa Sifat Malu Hilang?

    Sifat malu hilang karena ketidaktahuan. Ia tidak tahu bahwa perbuatannya itu salah, seperti halnya orang yang tak tahu atau tidak sadar mengenakan sepatu terbaik atau memakai sarung yang berlubang. Sifat malu hilang sebab merasa perbuatan itu tidak dilihat orang dan tidak sadar bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang diperbuatnya.

    Sifat malu hilang sebab perbuatan itu telah menjadi kebiasaan bagi dirinya, kemudian lingkungan dirinya tidak memandang rendah atau hina akan perbuatan yang dimaksud, tidak memandang salah atau sesat. Dengan demikian, hilanglah rasa malu sebab takabbur, memandang rendah akan orang sekelilingnya.

    Oleh sebab itu hilang malu itulah, kejahatan berganti nama menjadi kesopanan, kemiungkaran bernama kemajuan, perzinahan bergelar pelesiran, pencurian beristilah mencari nafkah, perjudian jadi cari nasib, kejahatan dianggap keadilan, kemusyrikan menjadi kebudayaan dan dengan demikian makin jauhlah dari tanggapan yang sewajarnya, padahal tak berubah hakikat serta bukti nyata. Akhirnya berbuat jahat tidaklah dikhawatiri rasa aib dan malu, bahkan bertukar.

    Bila seorang hamba Allah beriman, bahwa dirinya dapat bergerak, bertindak, berfikir, berniat, berusaha dan berkata, kecuali pasti diketahui Allah Yang Maha Esa, tentulah rasa malu yang sehat akan lebih bertenaga serta berwibawa untuki mendorong kearah yang baik serta menahan dari kejatuhan dirinya kejurang kehinaan.

    Bagi seorang mu’min, akan terasa malu akan dirinya sendiri bila ia melakukan sesuatu perbutan yang diyakininya sendiri, akan keburukannya, yakni akan haramnya. Ia akan merasa mengkhianati dirinya sendiri bila melakukannya.

    Betapapun baiknya pengaturan suatu pemerintahan tidak akan ada artinya bila aktivitas pelaksanaannya buruk. Betapapun meodernnya sebuah mesin tak akan memberikan produksi bermutu tinggi bila budi pekerti pemeganmgnya rendah. Sebuah mesin hitung tidak akan mengkhianati angka-angka, tapi berapa banyak juru kas yang dibantu dengan mesin termodern dengan pekerti yang rendah, berkhianat atasnya.

  • Email This Post Email This Post Print This Post Print This Post
    247 views
    1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
    Loading ... Loading ...
Leave a Comment