Logo Background RSS

Laki Pulang Kelaparan, Dagang Lalu Ditanakkan

  • Written by Abu RusyadAbu Rusyad No Comments Comments
    Last Updated: May 25th, 2009

    Akibat sosial dari adanya keragu-raguan dalam diri umat Islam terhadap al-Quran itu, adalah keragu-raguan terhadap kawan seiring yang benar-benar taat, khidmat, dan yakin akan kebenaran Al-Quran serta membela ajaran-ajarannya dengan penuh tanggung jawab. Sekalipun sang kawan itu telah diangkat oleh mereka sebagai pemimpinnya, mereka tidak yakin akan kewajiban yang diperintahkan Rasulullah SAW bahwa : “Sekalipun Habsyi berkepala sebesar kismis, wajib ditaati bila ia menjadi pemimpinmu”.

    Kita tidak menutup mata, bahwa kita sering memuji pemimpin luar Islam, sedang pemimpin sendiri ditelanjangi dengan tidak merasakan perbuatan itu sebagai suatu dosa. Kita melakukan perbuatan yang hina itu, terpengaruh ajaran demokrasi dari luar Islam, yang telah disuntikkan dalam jiwa kita, bahwa Islam pun mengajarkan pula “kekurang ajaran” semacam itu pula. Kita ambil contoh peristiwa orang yang dengan tidak memilih tempat dan waktu telah menegur kholifah Umar bin Khathab yang sedang berkhutbah. yang kita tiru perbuatan orang ‘Arab tersebut bukan kebesaran budi kholifah yang telah kuasa menahan “ghadlab” atau kemarahannya sebagai tanda dan bukti kekuatan dan keteguhan imannya!

    Kita tidak menutup mata, kita suka memuji pemimpin luar Islam, sebab tidak tahu cacat dan kurangnya karena diluar kehidupan rumah tangga kita.

    Dapat kita pastikan, seseorang tidak akan pernah melakukan kekeliruan atau kesalahan dan tidak pernah melanggar peraturan dan disiplin militer, bukan karena ia seorang suci dan ma’sum seperti Nabi, tapi sebab ia bukan seorang militer!

    Seseorang tentu suci dan bebas dari kesalahan dan kekhilafan dalam pempinan ko-operasi, ormas, parpol ataupun lainnya, bukan sebab ia seorang yang suci, tapi ia itu bukan seorang yang ikut memegang pimpinan salah satu organisasi tersebut!

    Tersebab kehilangan kesadaran, keliru memberikan penghargaan, akhirnya ragu-ragu terhadap kawan seiring!

    Istri kita sendiri kita benci, istri tetangga dipuji-puji. Kawan sendiri dibenci, tapi lawan dan penipu yang memalsukan senyum dan keramah-tamahannya, dicintai tanpa pikir. Pemimpin yang mewaqafkan dirinya dengan ikhlas diusir, sedangkan penonton dari luar pagar, dielu-elukan dan diangkat serta diagungkan!

    Pastur yang membujuk-bujuk orang , bermanis-manis dengan keramah-ramahan yang dibuat-buat, dijadikan teladan dan contoh, sedangkan mubaligh, guru sendiri, yang memarahi kita dan memberikan peringatan keras atas kemaksiatan dan kemungkaran yang kita perbuat, kita benci dan kita musuhi. Si Pastur yang akan mengkristenkan dipuji-puji, mubaligh yang bekerja dengan ikhlas dan berniat memberikan pertolongan, diusir!

    Tamu yang telah ikut makan dan minum berhari-hari dirumah kita, kemudian memberi sejumlah uang persenan kepada kita, kita puji ia berkali-kali sebagi orang pemurah dan baik hati. Tapi kebalikannya, Ibu, bapak kita sendiri yang memberi makan dan minum tiap hari, dituduh seorang kikir, bakhil dan cerewet!

    Seunting senyum dari seorang wanita yang tidak halal diatas panggung tontonan, yang ditebus dengan uang yang cukup untuk belanja sebulan, tidak lepas dari ingatan. Tapi kebalikannya, kekhidmatan dan ketaatan istri yang halal, jasanya hanya ditulis dan dicatat di atas air.

    Demikianlah, kita rasakan, yang melanggar hukum Islam dipuji setinggi langit, jika ia membela Islam pada saat Islam mendapatkan serangan dan penghinaan. Tapi orang yang benar-benar taat pada Islam, berjuang dengan ikhlas, dituduh kurang iman, sebab ia tidak berkesempatan membela Islam sepatutnya, karena kurang bantuan dan support dari kawan sendiri untuk mempertahankan Islam dari serangan dan penghinaan tersebut.

    Itulah penyakit yang kemudian sebagai obat sosial dari keragu-raguan terhadap Al-Quran. Kita meragu-ragukan atau membenci kawan seiring yang setia terhadap Islam.

    Allah berfirman : “Sedang (ada kemungkinan) kamu benci kepada sesuatu, padahal ia itu suatu kebaikan bagimu, dan ada kemungkinan kamu cinta akan sesuatu, padahal ia itu tidak baik bagimu; dan Allah itu mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah ayat : 218)

    Kini telah tiba saatnya memahami persoalan umat Islam sekarang sebaik-baiknya, janganlah kita sebagai dikatakan peribahasa : “LAKI PULANG KELAPARAN, DAGANG LALU DITANAKKAN”.

    ABU RUSYAD TAQIYUDDIN.
    Asatidz Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung

  • Email This Post Email This Post Print This Post Print This Post
    492 views
    1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 2.00 out of 5)
    Loading ... Loading ...
Leave a Comment