<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung</title>
	<atom:link href="http://www.pesantrenpajagalan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pesantrenpajagalan.com</link>
	<description>Official site Pesantren Pajagalan Bandung</description>
	<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 08:43:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>ِِApa Kedudukan ذَا dalam ayat من ذا الذي يشفع عنده</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/%d9%90%d9%90apa-kedudukan-%d8%b0%d9%8e%d8%a7-dalam-ayat-%d9%85%d9%86-%d8%b0%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d8%b0%d9%8a-%d9%8a%d8%b4%d9%81%d8%b9-%d8%b9%d9%86%d8%af%d9%87/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/%d9%90%d9%90apa-kedudukan-%d8%b0%d9%8e%d8%a7-dalam-ayat-%d9%85%d9%86-%d8%b0%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d8%b0%d9%8a-%d9%8a%d8%b4%d9%81%d8%b9-%d8%b9%d9%86%d8%af%d9%87/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 08:43:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Sudrajat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ilmu Nahwu]]></category>

		<category><![CDATA[Tanya Jawab Ilmu Nahwu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=414</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat ذا dalam bahasa Arab mempunyai beberapa fungsi, diantaranya :
1-ذا berfungsi sebagai isim Isyarat untuk mufrad mudakkar dan seringkali ditambah dengan huruf  lain seperti :
a. Diawali 0leh Huruf  Tanbih (هَا) menjadi هَاذَا   atau ditulis dengan bentuk   هذَا yang sering diartikan &#8220;ini&#8220;.
b. Diakhiri dengan huruf Khithab (ك) menjadi  ذَاك yang sering diartikan &#8220;itu&#8220;, dan isim isyarat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalimat ذا dalam bahasa Arab mempunyai beberapa fungsi, diantaranya :</p>
<p>1-<span style="text-decoration: underline;">ذا berfungsi sebagai <strong>isim Isyarat</strong></span> untuk mufrad mudakkar dan seringkali ditambah dengan huruf  lain seperti :</p>
<p>a. Diawali 0leh Huruf  Tanbih (هَا) menjadi هَاذَا   atau ditulis dengan bentuk   هذَا yang sering diartikan &#8220;<em>ini</em>&#8220;.</p>
<p>b. Diakhiri dengan huruf Khithab (ك) menjadi  ذَاك yang sering diartikan &#8220;<em>itu</em>&#8220;, dan isim isyarat ini digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jaraknya dekat.</p>
<p>c. Diakhiri dengan huruf Lam lil Bu&#8217;di (ل) dan huruf Khithab  (ك) menjadi ذلك dan diartikan &#8220;<em>itu</em>&#8221; yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang letaknya jauh.</p>
<p>2-<span style="text-decoration: underline;">ذا berfungsi sebagai <strong>salah satu dari Asma&#8217;ul Husna</strong></span> dan suka diartikan &#8220;<em>memiliki</em>&#8220;, ذا sebagai bagian dari Asma&#8217;ul Husna termasuk kedalam kelompok isim Mu&#8217;rob dan mempunyai tiga kondisi perubahan, yaitu :</p>
<p>a. Marfu, dalam keadaan ini bentuknya adalah ذو , seperti dalam ayat :</p>
<p>ذو العرش المجيد  (surat al-Buruj : 15)</p>
<p>b. Manshub, dalam keadaan  ini bentuknya adalah  ذا , seperti dalam ayat :</p>
<p>من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه  (surat al-Baqarah : 255)</p>
<p>a. Majrur, dalam keadaan ini bentuknya adalah ذي  , seperti dalam ayat :</p>
<p style="text-align: left;">ذي قوةٍ عِنْد ذي العرش مكين  (surat at-Takwir : 20)</p>
<p style="text-align: right;">والله أعلم</p>
<p>Demikian jawaban untuk : <span class="cgSelectable" title="Lihat semua  email dari pengirim ini "><span class="fontDarkGray">abu ziad</span> &lt;abu.ziy4_darrawi@yahoo.co.id, bila masih ada yang belum jelas dengan senang hati kami akan membahas kembali.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/%d9%90%d9%90apa-kedudukan-%d8%b0%d9%8e%d8%a7-dalam-ayat-%d9%85%d9%86-%d8%b0%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d8%b0%d9%8a-%d9%8a%d8%b4%d9%81%d8%b9-%d8%b9%d9%86%d8%af%d9%87/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah &#8221; إذا &#8221; Huruf atau Isim ?</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/apakah-%d8%a5%d8%b0%d8%a7-huruf-atau-isim/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/apakah-%d8%a5%d8%b0%d8%a7-huruf-atau-isim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 07:53:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Sudrajat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ilmu Nahwu]]></category>

		<category><![CDATA[Tanya Jawab Ilmu Nahwu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[1. Pengertian إذا
Bila suatu hari ada orang yang bertanya kepada kita dengan pertanyaan , &#8220;   إذا itu bentuk isim ? fi&#8217;il ? atau Huruf ?, maka terkadang orang akan bingung menjawabnya, karena kalau hanya mengandalkan arti saja tidak akan cukup untuk menentukan jenis kalimatnya.
إذا itu sering diartikan bila, apabila atau jika. Bila melihat artinya maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Pengertian إذا</p>
<p>Bila suatu hari ada orang yang bertanya kepada kita dengan pertanyaan , &#8220;   إذا itu bentuk isim ? fi&#8217;il ? atau Huruf ?, maka terkadang orang akan bingung menjawabnya, karena kalau hanya mengandalkan arti saja tidak akan cukup untuk menentukan jenis kalimatnya.</p>
<p>إذا itu sering diartikan bila, apabila atau jika. Bila melihat artinya maka orang akan menjawabnya huruf, dan jawaban ini tentu saja belum benar, sebab إذا itu jenisnya adalah isim dan huruf, kenapa demikian ? karena إذا itu ada beberapa macam, berikut ini uraian penjelasannya</p>
<p>2. Macam-macam إذا</p>
<p>إذا itu terbagi kepada dua kelompok :</p>
<ul>
<li>إذا Zharfiyyah</li>
<li>إذا Fujaa&#8217;iyah</li>
</ul>
<p><strong>- إذا Zharfiyyah</strong></p>
<p>إذا Zharfiyyah adalah isim yang mengandung makna zharaf zaman lil Mustaqbal (untuk menunjukkan waktu yang akan datang).</p>
<p>إذا Zharfiyyah terbagi dua macam, yaitu :</p>
<ul>
<li>إذا Zharfiyyah Syarthiyyah ialah إذا yang mengandung makna waktu yang akan datang dan kebanyakan diikuti oleh fi&#8217;il Madhi setelahnya,bisa juga dengan fi&#8217;il Mudhari. إذا Zharfiyyah Syarthiyyah memerlukan dua jumlah untuk melengkapinya, jumlah pertama dinamakan Jumlah Syarthiyyah dan jumlah kedua dinamakan Jumlah Jawab Syarath yang biasanya diawali oleh huruf  &#8220;Fa&#8221;.</li>
</ul>
<p>Contoh : <span style="text-decoration: underline;">إذأ قَرَأْتَ </span>القرآن <span style="text-decoration: underline;">فـَاسْتَعْذْ </span>بِاللهِ</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">إذا قُمْتُمْ </span>إلى الصلاةِ <span style="text-decoration: underline;">فـاغْسِلُوْا</span></p>
<p>Potongan ke-2 ayat di atas diawali oleh إذا dan diikuti masing-masing oleh fi&#8217;il Madhi, pada ayat ke-1 fi&#8217;il Madhinya &#8220;قَرَأْتَ&#8221; dan ayat ke-2 fi&#8217;il Madhinya &#8220;قمْتمْ&#8221;, karena diawali oleh إذا maka fi&#8217;il Madhi tersebut mengandung makna waktu yang akan datang. Dan arti dari kedua potongan ayat tersebut adalah :</p>
<p>إذأ قَرَأْتَ القرآن فـَاسْتَعْذْ بِاللهِ  <em>Apabila Kamu akan membaca Al-Qur&#8217;an maka beristi&#8217;adzahlah kepada Allah</em></p>
<p>إذا قُمْتُمْ إلى الصلاةِ فـاغْسِلُوْا  <em>Apabila kamu akan mendirikan shalat maka cucilah&#8230;</em></p>
<ul>
<li>إذا Zharfiyyah Ghoir Syarthiyyah ialah إذا yang mengandung makna waktu dan tidak membutuhkan jumlah syarath dan jumlah Jawab Syarath, melainkan cukup dengan satu jumlah saja.</li>
</ul>
<p>contoh :  و الليلِ إذَا سَجَى artinya <em>Demi Malam ketika akan gelap</em></p>
<p><strong>-إذا Fujaa&#8217;iyyah</strong></p>
<p>إذا Fujaa&#8217;iyyah ialah sebuah huruf  yang tidak mengandung makna waktu, dan dinamakan Fujaa&#8217;iyyah karena ia mengandung makna tiba-tiba , yang sering diartikan dengan terjemahan &#8221; <em>ternyata</em> &#8220;, dan sesudahnya harus berupa jumlah  Ismiyyah, karena bila sesudahnya jumlah Fi&#8217;liyyah maka ia  bukan إذا Fujaa&#8217;iyyah tapi jadi إذا Zharfiyyah</p>
<p>contoh :  جِئْتُ إِلَى المَدْرَسَة فـإذَا النلاميذ يلعبون في الملعب artinya <em>Saya datang ke sekolah lalu ternyata murid-murid sedang bermain di lapangan</em></p>
<p style="text-align: right;">و الله أعلم</p>
<p>Demikian penjelasan dari kami atas pertanyaan saudara Adn, semoga menjadi pemicu semangat bagi mereka untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang ilmu Nahwu khususnya. Bila masih ada yang belum jelas, dengan senang hati kami akan menjelaskan lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/apakah-%d8%a5%d8%b0%d8%a7-huruf-atau-isim/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SYIBHU JUMLAH</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/syibhu-jumlah/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/syibhu-jumlah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 14:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Sudrajat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ilmu Nahwu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[1. Pengertian Syibhu Jumlah
Syibhu Jumlah merupakan sebuah istilah dalam Ilmu Nahwu yang terdiri dari dua kata, yaitu Syibhu yang artinya &#8220;menyerupai&#8221; dan Jumlah yang artinya &#8220;jumlah&#8220;, bila disatukan artinya menjadi &#8220;menyerupai jumlah&#8220;. Maka dari arti tersebut muncul sebuah pertanyaan ; &#8221; Dari segi apa ia menyerupai jumlah ?&#8221;
Untuk mengetahui jawabannya mari kita simak uraian di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Pengertian Syibhu Jumlah</p>
<p>Syibhu Jumlah merupakan sebuah istilah dalam Ilmu Nahwu yang terdiri dari dua kata, yaitu Syibhu yang artinya &#8220;<em>menyerupai</em>&#8221; dan Jumlah yang artinya &#8220;<em>jumlah</em>&#8220;<em>,</em> bila disatukan artinya menjadi &#8220;<em>menyerupai jumlah</em>&#8220;<em>. </em>Maka dari arti tersebut muncul sebuah pertanyaan ; &#8221; Dari segi apa ia menyerupai jumlah ?&#8221;</p>
<p>Untuk mengetahui jawabannya mari kita simak uraian di bawah ini</p>
<p>2. Macam-macam Syibhu Jumlah</p>
<p>Dalam ilmu Nahwu Syibhu Jumlah itu ada 2 macam, yaitu</p>
<p>-Jarr-Majrur yang terdiri dari Huruf Jarr dan Isim Majrur.</p>
<p>contoh : لِلَّهِ adalah Jarr-Majrur yang terdiri dari لِ  sebagai huruf Jarr dan اللَّهِ sebagai isim Majrur.</p>
<p>Dari contoh di atas menunjukkan bahwa Syibhu Jumlah Jarr-Majrur terdiri dari dua kalimat yaitu huruf Jarr dan isim Majrur, walaupun terdiri dari dua kalimat tapi maknanya belum jelas, tidak seperti sebuah jumlah yang walau terdiri dari dua kalimat tapi maknanya sudah jelas dan dapat difahami, perhatikan perbandingan keduanya berikut ini :</p>
<p>لِلَّهِ  adalah Syibhu Jumlah Jarr-Majrur yang artinya <em>bagi Allah</em></p>
<p>اَللَّهُ الصَّمَدُ   adalah Jumlah yang artinya <em>Allah tempat Bergantung</em></p>
<p>Maka dapat disimpulkan bahwa <em>Syibhu Jumlah maknanya belum jelas walau terdiri dari dua kalimat seperti Jumlah, dan Jumlah sudah jelas maknanya walau hanya terdiri dari dua kalimat. Syibhu Jumlah hanya menyerupai jumlah dari banyaknya kalimat saja yaitu terdiri dari dua kalilmat.</em></p>
<p>-Zharaf-Mudhaf Ilaih yang terdiri dari Zharaf dan Mudhaf Ilaih</p>
<p>contoh :  عِنْدَ اللَّهِ adalah Syibhu Jumlah Zharaf- Mudhaf Ilaih, yang terdiri dari  عِنْدَ  sebagai Zharaf dan اللَّهِ   sebagai Mudhaf Ilaih.</p>
<p>contoh tersebut menunjukkan bahwa Syibhu Jumlah Zharaf-Mudhaf Ilaih juga terdiri dari dua kalimat, tapi bila kita fahami maknanya belum jelas, yaitu :     عِنْدَ اللَّهِ    artinya disisi/pada Allah, dari arti ini akan timbul pertanyaan ; Apa yang disisi/pada  Allah itu ? bandingkan dengan jumlah yang walau terdiri dari dua kalimat tapi maknanya sudah jelas, seperti :</p>
<p>اَللَّهُ أَكْبَرُ  yang artinya Allah Maha Besar, kalau ada yang bertanya ; Siapa Allah itu ? jawabnya ; Yang Maha Besar, atau Siapa Yang Maha Besar itu ?, jawabnya : Allah SWT.</p>
<p>Maka dengan uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa Syibhu Jumlah baik Jarr-Majrur atau Zharaf-Mudhaf Ilaih maknanya belum jelas dan hanya menyerupai Jumlah dari segi banyaknya kalimat yang menyusunnya, yaitu terdiri dari dua kalimat, ini berbeda dengan Jumlah yang maknanya sudah jelas walau hanya terdiri dari dua kalimat.</p>
<p>3. Fungsi Syibhu Jumlah</p>
<p>Syibhu Jumlah baik Jarr-Majrur atau Zharaf-Mudhaf Ilaih walaupun belum jelas maksudnya, tapi berguna untuk memberikan keterangan tambahan pada sebuah jumlah.</p>
<p>contoh :  ذَهَبَ أَحْمَدُ adalah sebuah jumlah yang artinya Ahmad telah pergi, dan ini maksudnya sudah jelas dari segi siapa yang pergi dan apa yang dilakukan Ahmad. Dan kita bisa menambah keterangan untuk jumlah tersebut dengan Syibhu jumlah Jarr-Majrur dan Zharaf-Mudhaf Ilaih sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: right;">ذَهَبَ أَحْمَدُ إِلَى السُّوْقِ مَعَ عَلِيّ</p>
<p style="text-align: left;">إِلَى السُّوْقِ  adalah Jarr-Majrur yang berfungsi menambah keterangan tempat tujuan, sedangkan  مَعَ عَلِيّ  sebagai Zharaf-Mudhaf Ilaih menambah keterangan pelaku perbuatan. Maka kalau kita artikan menjadi <em>Ahmad bersama Ali telah pergi ke pasar</em>.</p>
<p style="text-align: right;">والله أعلم</p>
<p style="text-align: left;">Demikian uraian penjelasan dari kami, bila ada yang belum jelas dengan senang hati kami akan menjelaskan kembali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/syibhu-jumlah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KALIMAT DALAM BAHASA ARAB</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/kalimat-dalam-bahasa-arab/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/kalimat-dalam-bahasa-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 12:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Sudrajat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ilmu Nahwu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[1. Pengertian Kalimat
Kalimat dalam Bahasa Arab tidak sama pengertiannya dengan kalimat dalam Bahasa Indonesia. Kalimat dalam Bahasa Indonesia adalah kumpulan dua kata atau lebih yang menunjukkan kepada suatu maksud, sedangkan dalam Bahasa Arab yang dimaksud dengan kalimat adalah sebuah kata atau lafazh yang terdiri dari satu huruf  Hijaiyyah atau lebih yang menunjukkan suatu arti tersendiri/mufrad.
contoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Pengertian Kalimat</p>
<p>Kalimat dalam Bahasa Arab tidak sama pengertiannya dengan kalimat dalam Bahasa Indonesia. Kalimat dalam Bahasa Indonesia adalah kumpulan dua kata atau lebih yang menunjukkan kepada suatu maksud, sedangkan dalam Bahasa Arab yang dimaksud dengan kalimat adalah sebuah kata atau lafazh yang terdiri dari satu huruf  Hijaiyyah atau lebih yang menunjukkan suatu arti tersendiri/mufrad.</p>
<p>contoh : &#8220;Ali&#8221; adalah sebuah kata dalam Bahasa Indonesia dan disebut sebuah kalimat dalam Bahasa Arab.</p>
<p>&#8220;Ali hadir&#8221; adalah sebuah kalimat dalam Bahasa Indonesia dan disebut sebuah jumlah dalam Bahasa Arab.</p>
<p>Pengertian Kalimat menurut ilmu Nahwu adalah :</p>
<p style="text-align: right;">لَفْظٌ مُفْرَدٌ يَدُلُّ عَلَى مَعْنًى</p>
<p>&#8220;Sebuah lafazh mufrad yang menunjukkan sebuah makna&#8221;</p>
<p>Seperti kalima-kalimat yang ada pada Basmalah berikut ini :</p>
<p style="text-align: right;">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ</p>
<p>بِ   adalah satu kalimat dalam Bahasa Arab</p>
<p>اسْمِ  adalah satu kalimat dalam Bahasa Arab</p>
<p>اللَّهِ  adalah satu kalimat dalam Bahasa Arab</p>
<p>الرَّحْمنِ  adalah satu kalimat dalam Bahasa Arab</p>
<p>الرَّحِيْمِ  adalah satu kalimat dalam Bahasa Arab</p>
<p>2. Pembagian Kalimat</p>
<p>Kalimat dalam Bahasa Arab terbagi kepada 3 macam, yaitu</p>
<ul>
<li>Huruf  Ma&#8217;ani, dinamakan Ma&#8217;ani karena huruf-huruf tersebut mempunyai arti tersendiri berbeda dengan huruf Hija&#8217;iyyah/Mabani yang tidak mempunyai arti.  Huruf Mabani dalam Bahasa Arab kurang lebih ada 80 macam.</li>
<li>Fi&#8217;il adalah sebuah kalimat dalam Bahasa Arab yang mengandung makna pekerjaan atau shifat yang dalam Bahasa Indonesia disebut dengan istilah Kata Kerja atau Kata Sifat.</li>
<li>Isim adalah sebuah kalimat dalam Bahasa Arab yang mengandung makna benda atau terkadang mengandung makna shifat yang di dalam Bahasa Indonesia disebut dengan istilah Kata Benda.</li>
</ul>
<p>3. Fungsi Kalimat</p>
<p>Dalam Bahasa Arab kalimat berfungsi membangun sebuah jumlah atau Syibhu Jumlah untuk menyampaikan suatu maksud atau tujuan.</p>
<p>contoh :  إِلَى , ذَهَبَ  ,  أَحْمَدُ  ,  السُّوْق  , masing-masing adalah kalimat dengan arti tersendiri, dan bila kita rangkai menjadi sebuah jumlah menjadi :</p>
<p style="text-align: right;">ذَهَبَ أَحْمَدُ إِلَى السُّوْقِ</p>
<p style="text-align: left;">Ahmad pergi ke pasar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/kalimat-dalam-bahasa-arab/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa itu Wujuuban dan Jawaazan ?</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/apa-itu-wujuuban-dan-jawaazan/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/apa-itu-wujuuban-dan-jawaazan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 03:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Sudrajat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ilmu Nahwu]]></category>

		<category><![CDATA[Tanya Jawab Ilmu Nahwu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[1. Pengertian Wujuuban dan Jawaazan.
Wujuuban dan Jawaazan adalah dua istilah dalam ilmu Nahwu yang terdapat pada pembahasan isim dhomir mustatir yang ada pada sebuah fi&#8217;il, baik fi&#8217;il Madhi, fi&#8217;il Mudhari atau fi&#8217;il Amr.
Wujuuban adalah sighah/bentuk  mashdar dari وَجَبَ-يَجِبُ yang berarti wajib, mesti atau harus, dan Jawaazan sighah mashdar dari جَازَ - يَجُوْزُ yang berari boleh.
2. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Pengertian Wujuuban dan Jawaazan.</p>
<p>Wujuuban dan Jawaazan adalah dua istilah dalam ilmu Nahwu yang terdapat pada pembahasan isim dhomir mustatir yang ada pada sebuah fi&#8217;il, baik fi&#8217;il Madhi, fi&#8217;il Mudhari atau fi&#8217;il Amr.</p>
<p>Wujuuban adalah sighah/bentuk  mashdar dari وَجَبَ-يَجِبُ yang berarti wajib, mesti atau harus, dan Jawaazan sighah mashdar dari جَازَ - يَجُوْزُ yang berari boleh.</p>
<p>2. Ketentuan Wujuuban dan Jawaazan dalam isim Dhamir Mustatir</p>
<p>Adapun pengertian dan ketentuan isim dhamir mustatir Wujuuban dan Jawaazan dalam ilmu Nahwu adalah sebagai berikut :</p>
<p>-Wujuuban adalah isim Dhamir Mustatir yang ada pada fi&#8217;il Mudhari yang berdhamir Anta, Ana dan Nahnu, dan terdapat juga pada fi&#8217;il Amr yang berdhamir Anta.</p>
<p>contoh : إِيَّاكَ <span style="text-decoration: underline;">نَعْبُدُ</span> وَ إِيَّكَ <span style="text-decoration: underline;">نَسْتَعِيْنُ</span></p>
<p>pada kalimat yang bergaris bawah adalah fi&#8217;il Mudhari Ma&#8217;lum Muta&#8217;addi Tamm yang didalamnya terdapat isim dhamir mustatir wujuuban Nahnu.</p>
<p>Subjek dalam kedua fi&#8217;il di atas harus Nahnu (=kami) tidak boleh subjek yang lain, maka dalam arti kedua fi&#8217;il diatas adalah :</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">نَعْبُدُ</span> diartikan <span style="text-decoration: underline;">Kami </span>sedang/akan beribadah, dan</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">نَسْتَعِيْنُ</span> diartikan <span style="text-decoration: underline;">Kami</span> sedang/akan meminta pertolongan</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kesimpulan</span> : fi&#8217;il yang di dalamnya terdapat isim dhamir mustatir wujuuban subjeknya sudah ditentukan dan tidak boleh diganti dengan subjek yang lain.</p>
<p>-Jawaazan adalah isim Dhamir Mustatir yang ada pada fi&#8217;il Madhi dan fi&#8217;il Mudhari yang berdhamir Huwa dan Hiya , tapi tidak ada pada fi&#8217;il Amr.</p>
<p>contoh : <span style="text-decoration: underline;">آمَنَ</span> النَّاسُ</p>
<p>pada kalimat yang bergaris bawah adalah fi&#8217;il Madhi Ma&#8217;lum Muta&#8217;addi Bighairi Tamm yang didalamnya terdapat isim dhamir mustatir Jawaazan Huwa.</p>
<p>Subjek dalam fi&#8217;il di atas adalah an-Naasu (orang-orang), dan bila diartikan menjadi &#8221; orang-orang telah beriman&#8221;. Dan boleh juga kita mengganti subjeknya dengan yang lain tanpa mengubah bentuk fi&#8217;ilnya, seperti :</p>
<p>آمَنَ <span style="text-decoration: underline;"><strong>عُمَرُ</strong></span><strong> </strong>artinya Umar telah beriman</p>
<p>آمَنَ <strong><span style="text-decoration: underline;">الْوَلَدُ</span></strong> artinya Anak itu telah beriman</p>
<p>subjeknya boleh diganti asal harus sejenis, maksudnya harus mudzakkar, dan boleh juga subjeknya satu, dua atau lebih ( boleh mufrad, mutsanna atau jamak) asal masih dalam jenis mudzakkar.</p>
<p>contoh : آمَنَ الْمُسْلِمُ  artinya seorang muslim telah beriman</p>
<p>آمَنَ الْمُسْلَِِمَانِ  artinya dua orang muslim telah beriman</p>
<p>آمَنَ الْمُسْلَِِمُوْنَ  artinya orang-orang muslim telah beriman</p>
<p>Jika subjeknya mu&#8217;annats, maka tambahkan huruf Ta&#8217; Ta&#8217;nits Sakinah di akhir fi&#8217;il Madhi dan huruf  Ta&#8217; Mudhara&#8217;ah di awal fi&#8217;il Mudhari.</p>
<ul>
<li>Bila Fi&#8217;il Madhi atau fi&#8217;il Mudhari yang berdhamir mustatir Huwa, maka yang menjadi subjeknya harus <span style="text-decoration: underline;">mudzakkar</span>, dan boleh dalam keadaan mufrad , mutsanna atau jamak tanpa merubah keadaan fi&#8217;ilnya yang tetap dalam keadaan berdhamir huwa.</li>
<li>Bila Fi&#8217;il Madhi atau fi&#8217;il Mudhari yang berdhamir mustatir Hiya, maka yang menjadi subjeknya harus <span style="text-decoration: underline;">mu&#8217;annats</span>,dan boleh dalam keadaan mufrad , mutsanna atau jamak tanpa merubah keadaa fi&#8217;ilnya yang tetap dalam keadaan berdhamir hiya.</li>
</ul>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kesimpulan</span> : fi&#8217;il yang di dalamnya terdapat isim dhamir mustatir jawaazan subjeknya boleh diganti dengan subjek yang lain dengan syarat harus satu jenis dalam mudzakkar dan mu&#8217;annatsnya , dan tidak perlu mengubah keadaan bentuk fi&#8217;ilnya yang tetap dalam keadaan tunggal.</p>
<p style="text-align: right;">وَاللَّهُ أَعْلَمُ</p>
<p>Demikian yang dapat kami uraikan semoga ada guna dan manfa&#8217;atnya, bila masih ada yang belum jelas dengan senang hati kami akan menjelaskan kembali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/apa-itu-wujuuban-dan-jawaazan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mqoddimah Ilmu Nahwu</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/mqoddimah-ilmu-nahwu/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/mqoddimah-ilmu-nahwu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 04:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Sudrajat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[I'lan]]></category>

		<category><![CDATA[Ilmu Nahwu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[1. Ta&#8217;rif Ilmu Nahwu
Ilmu Nahwu merupakan salah satu bagian dari 12 macam ilmu Bahsa Arab yang amat penting di samping ilmu Sharaf, ia adalah ilmu yang sangat berperan dalam memahami segala aspek yang menyangkut Bahasa Arab, terutama dalam memahami al-Qur&#8217;an, Hadits-hadits Nabi S.A.W dan kitab-kitab berbahasa Arab. Mustahil orang dapat memahami Bahasa Arab tanpa terlebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Ta&#8217;rif Ilmu Nahwu</p>
<p>Ilmu Nahwu merupakan salah satu bagian dari 12 macam ilmu Bahsa Arab yang amat penting di samping ilmu Sharaf, ia adalah ilmu yang sangat berperan dalam memahami segala aspek yang menyangkut Bahasa Arab, terutama dalam memahami al-Qur&#8217;an, Hadits-hadits Nabi S.A.W dan kitab-kitab berbahasa Arab. Mustahil orang dapat memahami Bahasa Arab tanpa terlebih dahulu mempelajari dan menguasai ilmu Nahwu dan Sharaf.</p>
<p>Ilmu Nahwu menurut bahasa artinya contoh, artinya dalam memahami ilmu Nahwu diperlukan banyak contoh untuk memahaminya, dan menurut istilah adalah <i>sebuah ilmu yang terdiri dari kaidah-kaidah umum yang dapat diketahui dengan ilmu Nahwu keadaan akhir sebuah kalimat dalam Bahasa Arab dari segi I&#8217;rab dan Bina.</i></p>
<p>2. Pembahasan Ilmu Nahwu</p>
<p>Ruang lingkup pembahasan Ilmu Nahwu meliputi 3 aspek, yaitu &#8221; Kalimat, Jumlah dan Syibhu Jumlah.</p>
<p>3. Faidah Ilmu Nahwu</p>
<p>Kemampuan yang akan diperoleh bila seseorang sudah menguasai ilmu Nahwu dan Sharaf antara lain :</p>
<ul>
<li>Mampu berbicara dalam Bahasa Arab</li>
<li>Mampu membaca Kitab Kuning yang tanpa harokat</li>
<li>Mampu mengoreksi kesalahan dalam penggunaan Bahasa Arab</li>
<li>Mampu memahami syari&#8217;at Islam yang terkandung dalam al-Qur&#8217;an dan al-Hadits, dan ini tujuan utama dalam memepelajari Bahsa Arab</li>
</ul>
<p><i><br /></i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/mqoddimah-ilmu-nahwu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Bulan dan Matahari 2010</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/gerhana-bulan-dan-matahari-2010/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/gerhana-bulan-dan-matahari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 05:15:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mufti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hisab Falak]]></category>

		<category><![CDATA[I'lan]]></category>

		<category><![CDATA[2010]]></category>

		<category><![CDATA[GBS]]></category>

		<category><![CDATA[Gerhana]]></category>

		<category><![CDATA[Gerhana Bulan]]></category>

		<category><![CDATA[Gerhana Bulan Sebagian]]></category>

		<category><![CDATA[Gerhana Matahari]]></category>

		<category><![CDATA[Gerhana Matahari Cincin]]></category>

		<category><![CDATA[GMC]]></category>

		<category><![CDATA[Khusuf]]></category>

		<category><![CDATA[Kusuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله، لا ينخسفان لموت أحد ولا لحياته، فإذا رأيتم  ذلك فادعوا الله، وكبروا وصلوا وتصدقوا - البخارى

Di bulan pertama tahun 1431 H dan tahun 2010 M, akan ada peristiwa astronomis tahunan yaitu gerhana, bukan hanya satu gerhana tapi dua gerhana, yaitu gerhana bulan dan gerhana Matahari.
Gerhana Bulan kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="size: 12pt; text-align: right;"><strong>إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله، لا ينخسفان لموت أحد ولا لحياته، فإذا رأيتم  ذلك فادعوا الله، وكبروا وصلوا وتصدقوا - البخارى</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong></strong></p>
<p>Di bulan pertama tahun 1431 H dan tahun 2010 M, akan ada peristiwa astronomis tahunan yaitu gerhana, bukan hanya satu gerhana tapi dua gerhana, yaitu gerhana bulan dan gerhana Matahari.</p>
<p>Gerhana Bulan kali ini berupa Gerhana Bulan Sebagian (GBS) atau Partial Lunar Eclipse, dan gerhana ini dapat diamati dari seluruh Indonesia. Sedangkan Gerhana Matahari berupa Gerhana Matahari Cincin (GMC) atau Annular Solar Eclipse hanya bisa diamati di sebagian wilayah Indonesia.</p>
<p><strong>1. Gerhana Bulan Sebagian (GBS)</strong></p>
<p>Gerhana Bulan terjadi ketika posisi Matahari-Bumi-Bulan ada dalam satu garis, dan disebut Gerhana Bulan Sebagian karenaBulan hanya tertutup sebagian. Bahkan untuk Gerhana kali ini hanya menutup sebagian kecil sebelah selatan Bulan saja dan berlangsung sekitar satu jam.</p>
<p>Gerhana terjadi pada hari <strong>Jum&#8217;at, 01 Januari 2010 M/15 Muharram 1431 H</strong>:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Mulai Gerhana = 01:52:42 WIB</strong> <strong></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Pertengahan Gerhana = pukul 02:22:39 WIB</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Akhir Gerhana = 02:52:42 WIB</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: center;">
<dl>
<dt><a href="http://lh3.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzgmNv0sgNI/AAAAAAAAALs/KP6WdB5JUmw/s800/GBS02.jpg"><img class=" " src="http://lh3.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzgmNv0sgNI/AAAAAAAAALs/KP6WdB5JUmw/s400/GBS02.jpg" alt="" width="267" height="400" /></a></dt>
<dd>sumber: eclipse.gsfc.nasa.gov</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;"><strong>2. Gerhana Matahari Cincin (GMC)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><a href="http://lh5.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzgmNVMzpII/AAAAAAAAALk/XEmKfOTH6iI/s800/GMC150110.GIF"><img class="alignnone" src="http://lh5.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzgmNVMzpII/AAAAAAAAALk/XEmKfOTH6iI/s800/GMC150110.GIF" alt="" width="250" height="270" /></a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Gerhana Matahari Cincin hanya bisa diamati di wilayah Afrika, India, Burma, dan China. Sedangkan di Indonesia akan terlihat sebagai Gerhana Matahari Sebagian dan bisa diamati di Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Jawa. Juga merupakan satu-satunya Gerhana Matahari yang akan bisa teramati di Indonesia di tahun 2010.</p>
<p style="text-align: left;">Gerhana terjadi pada hari <strong>Jum&#8217;at, 15 Januari 2010 M/29 Muharram 1431 H</strong>:</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: center;">
<dl>
<dt><a href="http://lh6.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzhtXqxzGSI/AAAAAAAAAL4/84yuTBT-cmU/s800/GMC-Pjgln.jpg"><img src="http://lh6.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzhtXqxzGSI/AAAAAAAAAL4/84yuTBT-cmU/s400/GMC-Pjgln.jpg" alt="sumber: Nasa-Google" width="400" height="282" /></a></dt>
<dd>sumber: Nasa-Google</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: center;"><strong>Mulai Gerhana = 14:39:13 WIB</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Pertengahan Gerhana = 15:18:19 WIB</strong> <strong></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Akhir Gerhana = 15:54:45 WIB</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: center;">
<dl>
<dt><a href="http://lh4.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzgmNb7u3GI/AAAAAAAAALo/gG_91HcnEBE/s800/GMC_150110.gif"><img class=" " src="http://lh4.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzgmNb7u3GI/AAAAAAAAALo/gG_91HcnEBE/s800/GMC_150110.gif" alt="Gerhana Matahari" width="400" height="400" /></a></dt>
<dd>sumber: www.eclipse.org.uk</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: center;">
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: center;">
<dl>
<dt><a href="http://lh3.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzgmNpG8BgI/AAAAAAAAALw/z7mTMPfZDsY/s800/GMC%20150110.GIF"><img class=" " src="http://lh3.ggpht.com/_gh8AhIsQkDM/SzgmNpG8BgI/AAAAAAAAALw/z7mTMPfZDsY/s400/GMC%20150110.GIF" alt="" width="309" height="400" /></a></dt>
<dd>sumber: eclipse.gsfc.nasa.gov</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: left;">Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT yang harus kita renungkan. Sebagimana dalam Hadits di atas jika terjadi gerhana disunnahkan untuk shalat Gerhana (kusuf/khusuf) dimulai dengan bertakbir, shalat, berdo&#8217;a dan bershadaqah.</p>
<p style="text-align: left;">*<em><a title="PP Persis" href="http://persis.or.id/?p=1080" target="_blank">Edaran PP PERSIS tentang Gerhana</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/gerhana-bulan-dan-matahari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rem yang Menyelamatkan</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/rem-yang-menyelamatkan/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/rem-yang-menyelamatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 06:04:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Rusyad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ibadah Akhlak]]></category>

		<category><![CDATA[Kolom Asatidz]]></category>

		<category><![CDATA[Akhlak Malu]]></category>

		<category><![CDATA[Budaya Malu]]></category>

		<category><![CDATA[Hadit Malu]]></category>

		<category><![CDATA[Hikmah Malu]]></category>

		<category><![CDATA[Hikmah Rasa Malu]]></category>

		<category><![CDATA[Hilangnya Rasa Malu]]></category>

		<category><![CDATA[Malu]]></category>

		<category><![CDATA[Rasa malu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Rem yang berjalan dengan baik tidaklah akan menghambat suatu perjalan, dan tidak pula menghambat perhubungan lalu-lintas jalan tapi mengamankan perjalanan, menghindarkan setiap bahaya yang mengancam, bahaya jurang ataupun tabrakan.
Rasa malu yang wajar adalah suatu sifat yang sehat, ibarat sebuah rem yang kokoh, yang menjamin keselamatan sebuah kendaraan yang berjalan mencapai tujuannya dengan aman serta tentram.
Salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rem yang berjalan dengan baik tidaklah akan menghambat suatu perjalan, dan tidak pula menghambat perhubungan lalu-lintas jalan tapi mengamankan perjalanan, menghindarkan setiap bahaya yang mengancam, bahaya jurang ataupun tabrakan.</p>
<p>Rasa malu yang wajar adalah suatu sifat yang sehat, ibarat sebuah rem yang kokoh, yang menjamin keselamatan sebuah kendaraan yang berjalan mencapai tujuannya dengan aman serta tentram.</p>
<p>Salah satu hikmah yang terkandung dalam kitab-kitab agama sejak dahulu hingga sekrang berisi peringatan, serta nasehat yang dinasehatkan setiap Nabi dan Rasul yang kini telah menjadi peribahasa, ialah perihal sifat malu. Sebagai dinyatakan Rasulullah SAW :<span id="more-323"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;INNA MIMMA ADRAKA NASU MIN KALAMI &#8216;nNUBUWWATI ULAIDZA LAM TAS TAHIFA &#8216;SHNA &#8216;MASYI&#8217;TA&#8221;</p>
<p>Artinya : Sesungguhnya dari antara perkataan para Nabi terdahulu yang diketahui oleh ummat manusia, adalah : &#8220;APABILA ENGKAU TIDAK MEMPUNYAI MALU, BERBUATLAH APA YANG ENGKAU SUKAI&#8221;.</p></blockquote>
<p>Sabda Rasulullah SAW tersebut diatas, bukanlah suatu perintah agar kita menanggalkan rasa malu kemudin kita boleh berbuat sekehendak hati kita, bertindak sewenang-wenang tanpa batas, berlaku semaunya, tanpa tuntutan dan ikatan. Akan tetapi sabda Rasulullah SAW tersebut mengandung maksud serta arti bahwa sifat malu itu adalah suatu sifat yang patut dipupuk dan dipelihara. Sifat malu itu adalah rem yang kuat untuk menahan nafsu angkara manusia, mengurungkan maksud buruk serta niat jahat dan mengalihkannya kepada arah tujuan yang selaras dengan kebutuhan manusia serta kemanusiaan, menjauhkannya dari perbuatan keji dan mendekatkan kepada tingkah laku mulia serta terpuji.</p>
<p>Jadi maksud ucapan Rasulullah SAW adalah teguran serta peringatan, bahwasanya malu itu adalah wadah bagi akhlak yang baik. Kehilangan sifat malu berarti wadah telah pecah, isinya tertumpah ruah dengan tak menentu.</p>
<p>Orang yang tak memiliki rasa malu mustahil akan dapat memiliki sifat yang utama. Sebab, sifat malu yang ada pada dirinya itulah yang mencegah seseorang melakukan perbuatan-perbuatan rendah serta hina yang diakui dirinya akan menjadi aib bagi dirinya. Dan lebih utama lagi, sifat malu mencegah manusia daripada berbuat segala perkara yang dipandang jahat serta dosa oleh Allah Yang Maha Kuasa. kemudian sifat malulah yang mendorong orang untuk bekerja lebih giat serta lebih tekun, tanpa putus asa, dalam kebajikan dan kebaikan. Ia malu bila orang bersatu padu, sedangkan ia berseteru memperebutkan nafsu sendiri.</p>
<p>Demikianlah, jika kita periksa dengan teliti setiap perbuatan maksiat, setiap perbuatan yang ingkar serta menyimpang dari kebenaran dan perikemanusiaan, hilang dari budi manusia serta akhlak mulia seperti pembunuhan, pemerkosaan hak milik orang, pencemaran kehormatan orang, tidak mengindahkan hak serta kebenaran, tidak mengindahkan pikiran-pikiran dan saran-saran yang baik, tidak menaruh perhatian agar nasehat guru serta orang tua dan beribu perbuatan mungkar serta angkara lainnya, adalah bersumber pada &#8220;Sebab kehilangan rasa malu&#8221;. Bila diri tidak merasa aib lagi berpakaian compang-camping, tak ada lagi arti patut bagi dirinya.</p>
<p>Sudah beratus ribu peraturan dan undang-undang dikeluarkan setiap pemerintah didunia ini namun keangkaraan manusia bukan berkurang, malah bertambah. Perkembangan teknologi serta ilmu pengetahuan tidak melembutkan budi pekerti manusia, malah menambah buas dan garang. Tak ada tempat yang aman lagi meski tinggal didalam benteng baja yang kukuh. Tak ada tempat persembunyian lagi meski lari ke dasar bumi atau langit tinggi. Kemanakah hendaknya menyelamatkan diri bagi seoarang insan yang menghendaki ketentraman serta kedamaian?</p>
<p>Bila ingin menghentikan perjalanan, kita mesti berani mengakhiri suatu perjalanan yang sedang berlangsung, kemudian memulai perjalanan yang baru. Untuk memulai sesuatu kita harus berani mengakhiri sesuatu. Dan permulaan kebaikan itu adalah menyudahi kejahatan. Akhir suatu tahun adalah awwal tahun berikutnya. Titik tolak amal sholeh itu dimulai dari saat meninggalkan amal salah. Permulaan itu adalah penghabisan. Permulaan kebaikan artinya penghabisan kejahatan.</p>
<p>Mengapa Sifat Malu Hilang?</p>
<p>Sifat malu hilang karena ketidaktahuan. Ia tidak tahu bahwa perbuatannya itu salah, seperti halnya orang yang tak tahu atau tidak sadar mengenakan sepatu terbaik atau memakai sarung yang berlubang. Sifat malu hilang sebab merasa perbuatan itu tidak dilihat orang dan tidak sadar bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang diperbuatnya.</p>
<p>Sifat malu hilang sebab perbuatan itu telah menjadi kebiasaan bagi dirinya, kemudian lingkungan dirinya tidak memandang rendah atau hina akan perbuatan yang dimaksud, tidak memandang salah atau sesat. Dengan demikian, hilanglah rasa malu sebab takabbur, memandang rendah akan orang sekelilingnya.</p>
<p>Oleh sebab itu hilang malu itulah, kejahatan berganti nama menjadi kesopanan, kemiungkaran bernama kemajuan, perzinahan bergelar pelesiran, pencurian beristilah mencari nafkah, perjudian jadi cari nasib, kejahatan dianggap keadilan, kemusyrikan menjadi kebudayaan dan dengan demikian makin jauhlah dari tanggapan yang sewajarnya, padahal tak berubah hakikat serta bukti nyata. Akhirnya berbuat jahat tidaklah dikhawatiri rasa aib dan malu, bahkan bertukar.</p>
<p>Bila seorang hamba Allah beriman, bahwa dirinya dapat bergerak, bertindak, berfikir, berniat, berusaha dan berkata, kecuali pasti diketahui Allah Yang Maha Esa, tentulah rasa malu yang sehat akan lebih bertenaga serta berwibawa untuki mendorong kearah yang baik serta menahan dari kejatuhan dirinya kejurang kehinaan.</p>
<p>Bagi seorang mu&#8217;min, akan terasa malu akan dirinya sendiri bila ia melakukan sesuatu perbutan yang diyakininya sendiri, akan keburukannya, yakni akan haramnya. Ia akan merasa mengkhianati dirinya sendiri bila melakukannya.</p>
<p>Betapapun baiknya pengaturan suatu pemerintahan tidak akan ada artinya bila aktivitas pelaksanaannya buruk. Betapapun meodernnya sebuah mesin tak akan memberikan produksi bermutu tinggi bila budi pekerti pemeganmgnya rendah. Sebuah mesin hitung tidak akan mengkhianati angka-angka, tapi berapa banyak juru kas yang dibantu dengan mesin termodern dengan pekerti yang rendah, berkhianat atasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/rem-yang-menyelamatkan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fitrah Jangan Diperkosa</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/fitrah-jangan-diperkosa/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/fitrah-jangan-diperkosa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 03:11:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Rusyad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Kolom Asatidz]]></category>

		<category><![CDATA[Agama Katolik]]></category>

		<category><![CDATA[Cerai]]></category>

		<category><![CDATA[Hukum Cerai]]></category>

		<category><![CDATA[Hukum Thalaq]]></category>

		<category><![CDATA[Thalaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Dalam agama katolik, seorang suami tidak boleh melakukan perceraian terhadap istrinya, apapun alasannya. Akibatnya, banyak kehidupan rumahtangga tidak bahagia. Sang suami melakukan ma&#8217;siat (perselingkuhan) dibelakang istrinya, demikianpun sang isteri melakukan hal yang sama. Perbuatan seperti itu tidak baik dilakukan daripada sebuah perceraian, sebab perbuatan serupa itu dapat ditebus digereja dengan meminta pengampunan sang pastor.
Di Sisilia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam agama katolik, seorang suami tidak boleh melakukan perceraian terhadap istrinya, apapun alasannya. Akibatnya, banyak kehidupan rumahtangga tidak bahagia. Sang suami melakukan ma&#8217;siat (perselingkuhan) dibelakang istrinya, demikianpun sang isteri melakukan hal yang sama. Perbuatan seperti itu tidak baik dilakukan daripada sebuah perceraian, sebab perbuatan serupa itu dapat ditebus digereja dengan meminta pengampunan sang pastor.</p>
<p>Di Sisilia, Italia, Antonio Argenteri, (Thn 1968) seorang suami berumur 36 tahun yang berkerja sebagai pengasah gunting di Gela, Sisilia selatan, ingin menghentikan kehidupan perkawinannya. Kehidupan rumahtangganya membuat dia menderita terus sejak perkawinan dengan istrinya. Namun pintu perceraian tertutup, sebab ia beragama katolik.</p>
<p>Rupanya, penderitaan dirinya itu telah demikian<span id="more-320"></span> memuncak, ia putus asa. Dan pada suatu hari ia melemparkan dirinya kedalam laut dan mencoba berenang kearah pulau Malta yang jauhnya tidak kurang dari 120 KM. Ia berharap ia akan kelelahan dan kemudian mati tengelam dilaut itu.</p>
<p>Polisi berusaha mencegahnya, dan berhasil mengejar dia dengan kapal motor. Ia tidak mau dibantu, waktu itu ia baru berenang 5 KM. &#8220;Biarkanlah saya. Saya mau ke Malta, supaya dapat hidup tentram, sejak kawin kehidupanku toh seperti kesulitan marathon saja&#8221;, katanya.</p>
<p>Antonio tidak dapat dibujuk betapapun juga, ia tidak mau naik keatas motor boat polisi itu untuk dibawa pulang. Baru setelah seorang polisi mengatakan bahwa sekarang undang-undang perceraian sedang dibicarakan dalam parlemen, baru ia mau naik keatas kapal. Harapan Antonio tersebut bukanlah harapan dia seorang saja, tapi merupakan harapan ratusan ribu orang lainnya di Italia dan ummat Katolik diseluruh dunia umumnya.</p>
<p>Maka setelah melalui beberapa perdebatan dalam parlemen Itali, akhirnya undang-undang perceraian disahkan di Italia. Hal itu tentu saja bertentangan dengan ajaran Katolik yang menjadi agama resmi negara itu.</p>
<p>Dan oleh karena itu, tidaklah heran bila Vatican merasakan tindakan parlemen Itali itu sebagai tindakan yang menyakitkan.</p>
<p>Padahal, akal sehat akan menyadari betapa pedihnya kehidupan rumahtangga yang tidak tentram, sedangkan pintu perceraian ditutup dan pintu bermadupun ditutup.</p>
<p>Agama serupa itu memperkosa kesehatan jasmani dan rohani manusia, dan menimbulkan akibat manusia bersikap munafik, beragama secara dekoratif saja!</p>
<p>Islam dalam membina rumah tangga bahagia, rukun dan kekal bukan dengan menutup pintu-pintu keluar, sehingga terpaksa orang keluar dengan melalui jalan-jalan yang tidak wajar, Islam membuka pintu Thalaq (cerai) dengan syarat-syarat yang tidak ringan, Islam membuka pintu poligami dengan syarat yang tidak mudah!</p>
<p>Islam membina &#8220;Ummatan wasathan&#8221;, ummat yang tidak ifrath ataupun tafrith.</p>
<p>Islam tidak melapangkan pintu thalaq, tidak pula merapuhkan ikatan pernikahan. Thalaq memang halal, tapi tidak disukai. Thalaq dalam Islam adalah obat terakhir, seumpama gigi yang sakit yang hanya dicabut bila memang tidak dapat diperoleh obat lain.</p>
<p>Gigi yang sakit perlu diobati tapi jangan cepat-cepat dicabut. Baru, bila syaraf terganggu sehingga setiap kerja yang dilakukan tidak menentu, serta membahayakan anggota badan yang lainnya dan obat sudah tidak dapat dicarikan lagi, gigi itu lebih baik dicabut.</p>
<p>Perkawinan bukan kamar gelap untuk menyimpan seorang tahanan. Perkawinan bukan pula rantai untuk pengikat tanggan dan kaki tawanan. Tapi perkawinan ialah untuk membina keluarga sejahtera, membina ummat dan bangsa sesuai dengan fitrah manusia, makhluk Allah swt.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/fitrah-jangan-diperkosa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Hari Raya Idul Adha Bertepatan dengan Hari Jumat</title>
		<link>http://www.pesantrenpajagalan.com/hukum-hari-raya-idul-adha-bertepatan-dengan-hari-jumat/</link>
		<comments>http://www.pesantrenpajagalan.com/hukum-hari-raya-idul-adha-bertepatan-dengan-hari-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 03:42:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KH. Emon Sastranegara</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ibadah Akhlak]]></category>

		<category><![CDATA[Kolom Asatidz]]></category>

		<category><![CDATA[Almanak Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Hukum dua Hari Raya]]></category>

		<category><![CDATA[Idul Adha]]></category>

		<category><![CDATA[Idul Adha dan Jumat]]></category>

		<category><![CDATA[Persis]]></category>

		<category><![CDATA[Pimpinan Pusat Persatuan Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Shalat Jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pesantrenpajagalan.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Perhitungan ahli hisab tahun ini hari Idul Adha 1430 H akan jatuh pada hari Jumat sebagaimana dapat kita lihat dan perhatikan dalam Almanak Islam 1430 H yang dikeluarkan oleh Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), dengan rincian sebagai berikut:
Ijtima akhir Dzul Qa&#8217;dah 1430 H pada hari Selasa 17 November 2009 M pukul 02.15.15 WIB. Tinggi hilal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perhitungan ahli hisab tahun ini hari <a href="http://www.pesantrenpajagalan.com/tag/idul-adha/">Idul Adha</a> 1430 H akan jatuh pada hari Jumat sebagaimana dapat kita lihat dan perhatikan dalam <a href="http://www.pesantrenpajagalan.com/tag/almanak-islam/">Almanak Islam</a> 1430 H yang dikeluarkan oleh <a href="http://www.pesantrenpajagalan.com/tag/pimpinan-pusat-persatuan-islam/">Pimpinan Pusat Persatuan Islam</a> (Persis), dengan rincian sebagai berikut:</p>
<p>Ijtima akhir Dzul Qa&#8217;dah 1430 H pada hari Selasa 17 November 2009 M pukul 02.15.15 WIB. Tinggi hilal (bulan sabit) waktu Maghrib di Pelabuhan Ratu (Jabar) 5 derajat 41 menit 10.7 detik, sementara tinggi hilal di Jaya Pura 3 derajat 55 menit 39.6 detik. Jadi tanggal 1 Dzulhijjah 1430 H bertepatan dengan hari Rabu tanggal 18 Nopember 2009. Oleh sebab itu tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan dengan hari<span id="more-313"></span> Jumat tanggal 27 Nopember 2009.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Dari Iyas bin Abi Romlah Asy-Syaamiy ia berkata, Aku pernah menyaksikan Mu&#8217;awiyyah bin Abi Sofyan dan ia pernah bertanya kepada Zaid bin Arqam, tanyanya, &#8216;Apakah kau pernah menyaksikan dua Id (Fithri dan Adha) berbarengan (dengan hari Jumat dalam sehari)?&#8217; Jawabnya, &#8216;Ya aku pernah.&#8217; Tanyanya pula, &#8216;Apa yang beliau perbuat (saat itu)?&#8217; Jawabnya, &#8216;Beliau (Nabi Saw) shalat Id, lalu beliau memberi rukhsoh (kemudahan) dalam melaksanakan <a href="http://www.pesantrenpajagalan.com/tag/shalat-jumat/">shalat Jumat</a>, lalu sabdanya, Siapa yang mau shalat (Jumat) silakan shalat Jumat.&#8217; (Shahih Sunan Abu Dawud Vol 1:290)</em></p>
<p>Sebagaimana tersebut dalam hadits di atas yang menyatakan bahwa bila dua Id baik Fithri maupun Adha yang hukumnya sunnah ada kaitannya dengan shalat Jumat yang hukumnya wajib (untuk kaum bapak) maka untuk shalat Jumat yang hukumnya wajib tersebut ada semacam rukhsoh atau kemudahan untuk memilih (apakah mau shalat atau tidak).</p>
<p>Dalam kitab shahih Sunan Abu Dawud Lil Imam Al-Hafidh bin Al-Syats Al-Sajastany (wf 275 H) semoga Allah menurunkan rahmat kepadanya, karya Muhammad Nasiruddin Al-Baaniy Vol I Maktabah Al-Ma&#8217;rifah tin Nasyr wat tauzy tishaabihiha Sa&#8217;ed bin Abdurrahman Al-Rasyid, Riyadh menyodorkan empat hadits dengan judul, &#8220;217 Bab Idza waqofa yaumul jumu&#8217;ati yauma Idin.&#8221; Bab bila bertepatan hari Jumat pada hari Id (Idul Fithri dan Idul Adha).</p>
<p>Pertama, hadits nomor 1070, sebagaimana sudah tertulis di atas yang bersumber dari Iyas bin Abi Romlah Asy-Syaamiy yang mengambil dua sahabat yang sudah tidak asing lagi yakni Mu&#8217;awiyyah bin Abi Sofyan dan Zaid bin Arqom yang menyatakan bahwa bila Id bertepatan dengan hari Jumat maka shalat Jumat boleh dilakukan atau tidak (rukhsoh).</p>
<p>Kedua, hadits yang bersumber dari Atha bin Abi Rabah katanya, Ibnu Zuber shalat bersama kami yang bertepatan dengan hari Id pada hari Jumat di awal hari, lalu kami berangkat Jumat tetapi Ibu Zuber tidak keluar menemui kami, lalu kami shalat sendirian dan saat itu Ibnu Abbas r.a. di Thaif. Setelah beliau pulang, kami menceritakan hal itu kepadanya kemudian beliau berkata &#8220;Ashaabas Sunnata&#8221; (sesuai dengan sunnah) (jawaban beliau sangat ringkas tetapi jelas). Shahih Sunan Abu Dawud vol 1 no. 1071 halaman 295.</p>
<p>Hadits ini menjeaskan kepada kita bahwa seorang sahabat Nabi Saw Ibnu Zuber yang shalat Id di padi harinya ternyata beliau tidak shalat Jumat. Hadits ini memberi isyarat kepada kita adanya rukhsoh (kemudahan) untuk tidak melakukan Jumat sama sekali.</p>
<p>Ketiga, hadits dari Atha juga katanya pernah berkumpul hari Jumat dan hari Idul Fithri di zamannya Ibnu Zuber maka katanya, dua hari raya pernah berkumpul pada satu hari lalu ia mengumpulkannya sekaligus yaitu shalat dua rakaat di pagi hari tidak menambah (dari) dua rakaat hingga beliau shalat ashar. Shahih Sunan Abu Dawud no 1072 halaman 296.</p>
<p>Hadits ini pun menerangkan dengan jelas bahwa amal sahabat yang menunjukkan bila di pagi harinya shalat Id maka tidak shalat Jumat, ketemu shalat lagi di waktu ashar.</p>
<p>Keempat, lebih baik shalat jamaah, hal ini dapat kita cermati dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah Saw sesungguhnya beliau bersabda, &#8220;Sungguh telah bertemu pada hari kalian ini dua Id maka siapa yang melakukan (shalat Id) dipandang cukup dari shalat Jumat tetapi kami akan melakukan shalat Jumat.&#8221; Shahih Sunan Abu Dawud 1:1073 halaman 296.</p>
<p>Hadits Abu Hurairah r.a. ini menjelaskan bahwa apabila seorang di pagi harinya melaksanakan shalat Id maka terhadap orang itu ada semacam keleluasaan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat. Tetapi di ujung hadits Rasulullah Saw dengan tandas menyatakan walaupun ada keleluasaan atau semacam keringanan dalam bahasa fiqihnya rukhsoh beliau tetap akan melaksanakan shalat Jumat. Bila demikian melakukan shalat Jumat untuk orang yang di pagi harinya melakukan shalat Id hal tersebut dipandang baik. Rasuullah Saw menandaskan, &#8220;Wainna mujaamiuun.&#8221; kami akan melakukan shalat Jumat.</p>
<p>Kesimpulan <a title="Hukum Hari Raya Idul Adha Bertepatan dengan Hari Jumat" href="http://www.pesantrenpajagalan.com/hukum-hari-raya-idul-adha-bertepatan-dengan-hari-jumat/">Hukum Hari Raya Id (khususnya Idul Adha yang akan dihadapi Jumat depan) Bertepatan dengan Hari Jumat</a>.</p>
<p>Bila kita kaji dan perhatikan empat hadits yang ada di dalam Shahih Sunan Abu Dawud vol 1 halaman 295-296 hadits bernomor 1070, 1071, 1072, dan 1073 dibawah judul Bab bila bertepatan hari Jumat dengan hari Id bisa disimpulkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Bila kejadian hari Id (baik fithri maupun adha) seperti Insya Allah yang akan terjadi tahun 2009 ini maka siapa yang di pagi harinya melaksanakan shalat Id ada keringanan (rukhsoh) untuk tidak melaksanakan shalat Jumat.</li>
<li>Untuk orang yang tidak mengikuti shalat Id tetap ada kewajiban melaksanakan ibadah shalat Jumat.</li>
<li>Untuk laki-laki yang sakit tetap berkewajiban melaksanakan shalat Dzuhur.</li>
<li>Walaupun ada semacam keleluasaan atau rukhsoh untuk tidak melaksanakan shalat Jumat khususnya untuk para pemimpin akan sangat baik dan utama untuk melaksanakan shalat Jumat sebagaimana pernyataan Nabi Saw terakhir, &#8220;Wainna Mujamiuun - kami tetap akan melaksanakan shalat Jumat.&#8221;</li>
</ol>
<p>Semoga kita tetap ada dalam ampunan dan ridlo-Nya. Aamin yamujibassaa-iliin.</p>
<p><em>NB: Artikel ini dimuat pula pada Buletin Jumat &#8220;Risalah Jum&#8217;ah&#8221; No. 302 Th. VI - 2 Dzulhijjah 1430 H - 20 Nopember 2009 M terbitan Bidang Garapan Penyiaran dan Publikasi (Bidgar PenPub) PP. Persatuan Islam.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pesantrenpajagalan.com/hukum-hari-raya-idul-adha-bertepatan-dengan-hari-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
