Berbuat Baik Belum Tentu Menjadi Amal Sholeh
Dalam melakukan amal ibadah di dunia ini jangan sekali-kali kita menganggap kaifiyah suatu ibadah itu enteng sehingga pada saat kita melakukan ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW kita ubah. Maka yang kita dapat bukan rahmat dari Allah tapi sebaliknya. Demikian pula, apabila amal perbuatan kita bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits Nabi yang shahih apa yang harus kita lakukan. Apakah al-Qur’an dan hadits Nabi itu, kita ganti atau kita coret agar sesuai dengan perbuatan kita atau perbuatan kita yang harus kita ubah agar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi.
Untuk saat sekarang masih banyak perbuatan saudara-saudara kita, mereka melakukan amal baik tapi tidak menjadi amal sholeh, karena dilakukan bukan karena Allah dan diperaktek tidak sesuai dengan contoh Rasulullah SAW. Amal baik yang ia lakukan tidak menjadi amal sho laisal birro yang kesananya menjadi habaan mansyuro.
Oleh karena itu kita yang telah paham kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW marilah bersama-sama mengajak saudara-saudara kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bagaimana caranya, sehubungan dengan itu sahabar ‘Ady bin Hatim meriwayat sebuah peristiwa. Ketika kami berada dihadapan Nabi SAW tiba-tiba datang seseoarang mengadu kepada Rasulullah tentang Faqoh (kekurangan sandang dan pangan), kemudian datang seseorang yang lain mengadu kepada Rasulullah SAW tentang gangguan keamanan. Demikian yang diadukan kedua sahabat tadi tentang daerahnya masing-masing, dan mereka berdua sudah masuk Islam, daerahnyapun sudah termasuk wilayah Islam. Sekalipun demikian ternyata mereka belum mendapat kenikmatan dengan datangnya Islam itu sendiri. Disamping itupun mereka meminta bagaiamana kaifiyah yang harus mereka lakukan.
Setelah mendengar pengaduan dua sahabat tadi Rasulullah SAW tidak langsung menjawab kepada yang bersangkutan, tapi Nabi bertanya kepad. wahai ‘Ady apakah engkau tahu negri yang bernama Hirroh? ‘Ady menjawab, Hamba tidak tahu, tapi hamba pernah mendengar dari orang lain bahwa Hirroh adalah sebuah daerah yang jauh dari Madian ini. Nampaknya dialog antara rasulullah dengan ‘Ady tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang ditanyakan kedua shabat tadi. lalu Rasulullah SAW menyambung sabdanya: Jika engkau lanjut usia kelak, engkau akan menemukan seorang perempuan pergi dari Hirroh ke Mekkah tanpa pengawal, tanpa muhrim dan ia melakukan ibadah haji dan ia tidak takut kecuali ia takut kepada Allah.
Rasulullah SAW setuju untuk memberantas gangguan ekonomi dan keaamanan. Namun bagaimana caranya. Disana tersirat jawaban itu, bahwa utnuk mencapai apa-apa yang dicita-citakan itu tidak mungkin dilunasi dalam sehari atau dua hari, sehingga ‘Ady bin Ha un menemukan setalah lanjut usianya. Hal ini berarti perlu perubahan, sehingga terjelma manusia-manusia baru dalam arti manusia yang itu-itu juga tapi isi hatinya telah bergganti bukalan lagi berisi bisikan syetan dan dorongan Iblis tapi berisi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Jika hatinya telah terisi dengan keimanan dan ketaqwaan akan menghasilkan sifat Ihsan. Ihsan ialah ia beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihat Allah, tapi jika ia tidak melihat Allah ia yaqin Allah melihat dia. Setiap orang yang mersa di awasi Allah saya yaqin ia tidak akan melaukan perbuatan yang bertentangan dengan menyebabkan allah murka kepadanya.
Betapapun indahnya sebuah gedung bila diisi oleh orang-orang yang jarang menjaga kebersiahan dan keamana, maka gedung itu tidak selamanya nampak indah, ia akan segera menjhadi sebuah gedung yang jelek dan buruk. dan betapun sebuah rumah yang buruk terbuat dari bambu dan kayu bila para penghuninya terdiri dari orang-orang yang selalu menjga kebersiahan dan keamanan insya Allah ia akan menjadi sebuah rumah yang Indah, anggun danmenarik. Jadi justru orangnya yang harus berubah. Undang-undang boleh beratus kali berubah akan tetapi selama yang menghadi undang-undang itu orang yang becat akhlaqnya, rusak Aqidah, dan rusak ibadahnya jangan diaharapkan akan ada perubahan kearah perbaikan. Hal ini sama halnya dengan seorang yang kaya raya. Menyuruh para pengjanya untuk menjaga hartanya, karena para penjaganya semuanya maling maka rta yang dijaga tidak terssa diba oleh para penjaganya.
Umar bin khothob pernah meriwayatkan sebuah hadist : “Agama islam itu adalah mu’ammalah”. Di dalam agama Islam mu’ammalah itu meliputi :
- Mu’ammalah makhluk dengan Kholik yang disebut dengan Ibadah.
- Mu’ammalah makhluk dengan makhluk yang disebut dengan mu’ammalah.
- Mu’ammalah makhluk dengan nafsunya yang dikenal dengana nama akhlaq.
Ketiga mu’amalah ini harus dikerjakan bersama tidak boleh ada yang diabaikan. Kalau ada yang diabaikan maka ia tidak dapat melakukan mu’ammalah secara islamiyyah.
Ada sebagian orang yang merasa bosan mendengar tablig yang mengupas masalah wuldu, shaum, sholat, haji, zakat, qurban, nikah, sudah bosan awak mendengarnya pendapat semacam ini ia lupa masalah yang mendasari dalam mu’ammalah islamiyah itu sendiri.
Di zaman Rasulullah ada orang menawar-nawarkan dirinya untuk berperang membunuh orang kafir, namun Allah menegur didalam Al-Qur’an surat An-Nissa ayat : 77. “Tahan dulu diri-dri kalian laksanakan sholah dan tunaikan zakat” Oleh karena itu jika kedua sahabat tadi ingin sukses apa yang mereka perjuangkan maka yang pertama bereskan aqidahnya agar tidak penuh dengan kemusyrikan, kedua bereskan ibadahnya agar tidak penuh dengan bid’ah dan bereskan akhlaqnya agar tidak penuh dengan akhlak mazmumah.
Di dalam hadist shahih Bukhori dan Muslim, ada seorang pemuda mengubakan topi dari besi, baju dari besi, pedangnya sudah lepas dari sarungnya siap membunuh orang kafir, namun Rasulullah SAW bersabda kepadanya : “Islam dululah engaku barulah engkau boleh berjuang” Apa Islam sesungguhnya? OIslam bukan etiket yang melekat pada diri kita. tapi relakan dirimu untuk hidup sesuai dengan tuntutan al-Qur’an dan Hadits. Berarti Muslim adalah menyerahkan kehendak dan keuinmginan untuk dikurung dengan kurungan hukum Allah (Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang shahih). Segala sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits wajib ia tinggalkan.
Jadi mari kita semua yang telah paham kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, mengajak saudara-saudara kiata untuk kembali kepada relnya. Sebagaimana sebuah kereta apai apabila berjalan bukan pada rel. Maka semakin cepat bergerak semakin cepat bahaya datang. tapi bila sebuah kereta api berjalan pada relnya majunya ada tujuan mundurnya pun ada manfaat. Begitupun dengan ummat yang ada di dunia ini yang menggunakan Al-Qur’an dan Hdaits sebagai pedoman hidup Insya Allah ia akan bahagia di dunia dan surga menanti di akhirat. sedangkan orang yang tidak mau menggunakan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hidun ia akan celaka di dunia dan neraka menanti di akhirat. Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita: Barangsiapa berpegang teguh kepada dua perkara ia tidak akan sesat selama-lamanya yaitu : Al-Qur’an dan Hadits yang shohih.
« Web Pesantren Pajagalan Masa Maintenance | Home | Lingkup Pendidikan Islam dalam Keluarga [Download Artikel PDF] »
Leave a Comment