Apa itu Wujuuban dan Jawaazan ?
1. Pengertian Wujuuban dan Jawaazan.
Wujuuban dan Jawaazan adalah dua istilah dalam ilmu Nahwu yang terdapat pada pembahasan isim dhomir mustatir yang ada pada sebuah fi’il, baik fi’il Madhi, fi’il Mudhari atau fi’il Amr.
Wujuuban adalah sighah/bentuk mashdar dari وَجَبَ-يَجِبُ yang berarti wajib, mesti atau harus, dan Jawaazan sighah mashdar dari جَازَ – يَجُوْزُ yang berari boleh.
2. Ketentuan Wujuuban dan Jawaazan dalam isim Dhamir Mustatir
Adapun pengertian dan ketentuan isim dhamir mustatir Wujuuban dan Jawaazan dalam ilmu Nahwu adalah sebagai berikut :
-Wujuuban adalah isim Dhamir Mustatir yang ada pada fi’il Mudhari yang berdhamir Anta, Ana dan Nahnu, dan terdapat juga pada fi’il Amr yang berdhamir Anta.
contoh : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّكَ نَسْتَعِيْنُ
pada kalimat yang bergaris bawah adalah fi’il Mudhari Ma’lum Muta’addi Tamm yang didalamnya terdapat isim dhamir mustatir wujuuban Nahnu.
Subjek dalam kedua fi’il di atas harus Nahnu (=kami) tidak boleh subjek yang lain, maka dalam arti kedua fi’il diatas adalah :
نَعْبُدُ diartikan Kami sedang/akan beribadah, dan
نَسْتَعِيْنُ diartikan Kami sedang/akan meminta pertolongan
Kesimpulan : fi’il yang di dalamnya terdapat isim dhamir mustatir wujuuban subjeknya sudah ditentukan dan tidak boleh diganti dengan subjek yang lain.
-Jawaazan adalah isim Dhamir Mustatir yang ada pada fi’il Madhi dan fi’il Mudhari yang berdhamir Huwa dan Hiya , tapi tidak ada pada fi’il Amr.
contoh : آمَنَ النَّاسُ
pada kalimat yang bergaris bawah adalah fi’il Madhi Ma’lum Muta’addi Bighairi Tamm yang didalamnya terdapat isim dhamir mustatir Jawaazan Huwa.
Subjek dalam fi’il di atas adalah an-Naasu (orang-orang), dan bila diartikan menjadi ” orang-orang telah beriman”. Dan boleh juga kita mengganti subjeknya dengan yang lain tanpa mengubah bentuk fi’ilnya, seperti :
آمَنَ عُمَرُ artinya Umar telah beriman
آمَنَ الْوَلَدُ artinya Anak itu telah beriman
subjeknya boleh diganti asal harus sejenis, maksudnya harus mudzakkar, dan boleh juga subjeknya satu, dua atau lebih ( boleh mufrad, mutsanna atau jamak) asal masih dalam jenis mudzakkar.
contoh : آمَنَ الْمُسْلِمُ artinya seorang muslim telah beriman
آمَنَ الْمُسْلَِِمَانِ artinya dua orang muslim telah beriman
آمَنَ الْمُسْلَِِمُوْنَ artinya orang-orang muslim telah beriman
Jika subjeknya mu’annats, maka tambahkan huruf Ta’ Ta’nits Sakinah di akhir fi’il Madhi dan huruf Ta’ Mudhara’ah di awal fi’il Mudhari.
- Bila Fi’il Madhi atau fi’il Mudhari yang berdhamir mustatir Huwa, maka yang menjadi subjeknya harus mudzakkar, dan boleh dalam keadaan mufrad , mutsanna atau jamak tanpa merubah keadaan fi’ilnya yang tetap dalam keadaan berdhamir huwa.
- Bila Fi’il Madhi atau fi’il Mudhari yang berdhamir mustatir Hiya, maka yang menjadi subjeknya harus mu’annats,dan boleh dalam keadaan mufrad , mutsanna atau jamak tanpa merubah keadaa fi’ilnya yang tetap dalam keadaan berdhamir hiya.
Kesimpulan : fi’il yang di dalamnya terdapat isim dhamir mustatir jawaazan subjeknya boleh diganti dengan subjek yang lain dengan syarat harus satu jenis dalam mudzakkar dan mu’annatsnya , dan tidak perlu mengubah keadaan bentuk fi’ilnya yang tetap dalam keadaan tunggal.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Demikian yang dapat kami uraikan semoga ada guna dan manfa’atnya, bila masih ada yang belum jelas dengan senang hati kami akan menjelaskan kembali.
Comments
pohon penjelasan tentang la-mahallaha minal-i’rob
Leave a Comment