Logo Background RSS

Akhirat dibina, Dunia dibangun

  • Written by Abu RusyadAbu Rusyad 2 Comments2 Comments Comments
    Last Updated: October 11th, 2009

    Telah tiga hari berturut-turut laki-laki itu ke masjid pada waktu yang sama dalam adegan yang serupa, ia masuk menenteng terumpahnya, dan dari mukanya bercucuran air wudlunya.

    Telah berturut-turut tiga hari Rasulullah SAW meminta perhatian para sahabatnya terhadap orang tersebut, tiap kali orang itu akan masuk, sebelum tampak terlihat wajahnya. Rasulullah meminta perhatian para hadirin :

    “Kini akan tampak bagi kamu seorang dari ahli surga”.

    Dan tidak lama setelah itu masuklah ia ke masjid, tidak seorangpun dari yang hadir waktu itu yang mengetahui siapa dia, siapa namanya, dan dari daerah mana, yang jelas laki-laki itu adalah orang Anshor tapi tampaknya bukan penghuni kota, mungkin rumahnya agak jauh.

    Anas bin Malik dan Abdullah bin Amer antara sahabat yang kebetulan hadir pada saat-saat itu, mereka berturut-turut dalam tiga hari mendengar ucapan Rasulullah itu, dan melihat orang Anshor yang dinyatakan min ahli jannah.

    Mengapa dia disebut min ahli jannah, surga bukan menopoli dia, tentu yang lain pun berhak menjadi sebagian ahli jannah, bila ia dapat melakukan atau beramal shaleh seperti dia, sebab dia bukan famili dari Rasulullah SAW dan bukan pula orang istimewa dikalangan ahli Madinah, dia orang biasa, orang awam, pakaiannya sangat sederhana, tapi pada mukanya bersinar-sianar cahaya iman yang ikhlas.

    Abdullah bin Amer, tidak puas dengan melihat wajahnya saja, dia ingin tahu apa keistimewaannya, mengapa jadi perhatian Rasulullah SAW, dan mengapa beliau meminta perhatian para hadirin. Dia bertekad dengan niat yang bulat akan pergi membuntuti orang itu agar dapat diketahui siapa dia sebenarnya, dan bagaimana cara hidupnya sehari-hari dan ibadahnya, apa yang istimewa yang meningkatkan harkat derajatnya menjadi ahli jannah.

    Setelah sampai ketempat kediamanya Abdullah bin Amer berterus terang minta izin untuk bertamu dirumahnya selama tiga hari. Abdullah bin Amer diterima dengan gembira mendapat kehormatan yang wajar yang tidak berlebih-lebihan penuh dengan kesederhanaan yang menjadi tanda ketulus ikhlasan yang tidak dibuat-buat.

    Siang malam Abdullah bin Amer meneliti gerak-gerik, tutur kata, amal ibadah tuan rumah, tapi dia tidak menemukan yang luar biasa, ibadahnya tidak melebihi contoh yang diajarkan Rasulullah, siang bekerja dengan rajin, tidak ada waktu yang terbuang, dan pada waktu malam dia istirahat, tidur dengan nyenyak, tiap kali terbangun terdengar ucapan dzikir kepada Allah, siang malam tidak lepas dari rasa keislamannya, selalu ingat dzikir bahwa dia itu adalah Abdullah. Sholat malamnya tidak berlebih-lebihan, tidak sholat semalam suntuk, hak untuk badannya, hak untuk istrinya, dan hak untuk kesehatan badannya semuanya terpenuhi.

    Selama tiga malam Abdullah bin Amer hampir tidak tidur, dia takut luput tidak dapat menyaksikan apa yang dibuat oleh tuan rumah.

    Waktu yang dijanjikan telah habis, dia mesti pamit, sebab dia sudah tiga malam bertamu, tapi hatinya belum puas. Sebab dia tidak melihat sesuatu ibadah yang luar biasa. Sebelum pamit Abdullah bin Amer dengan terus terang menjelaskan maksud yang sebenarnya, yaitu dia bermalam dan bertamu selama itu, untuk belajar dan meniru amal ibadah yang dilakukan tuan rumah dan mau mengetahui amal-amal apa yang menonjol, yang merupakan kelebihan dibandingkan dengan amal-amal sahabat yang lainnya. Akan tetapi ternyata tidak diketemukan sesuatu yang luar biasa. Ibadah atau amal apakah yang saudara lakukan, yang menyebabkan Rasuilullah menaruh perhatian yang besar terhadap saudara? Demikianlah Abdullah bin Amer bertanya kepada tuan rumah. Tuan rumah menjawab dengan ringkas, “Tidak ada selain apa yang engkau lihat”.

    Jawaban itu tidak memuaskan Abdullah bin Amer, ia pulang dengan hati yang masih bertanya-tanya, apa sebenarnya yang menjadi keistimewaannya?
    Diwaktu ia berpaling hendak meninggalkan rumah, Abdullah bin Amer dipanggil dan ia berkata lagi :

    “Tidak ada selain dari apa yang kamu lihat, hanya aku belum pernah melakukan kepalsuan terhadap siapapun dari kalangan umat islam, dan saya tidak pernah hasud kepada seorangpun yang dianugrahi sesuatu oleh Allah” (H.R. Ahmad).

    “Hadzihi illati balaghat bika” ( “Itulah yang meningkatkan derajat kamu”) Demikian diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

    Abdullah bin Amer merasa puas dengan keterangan yang diberikan kepadanya, dan keterangan itudapat disimpulkan bahwa keistimewaan yang ada pada orang itu ada dua siafat utama, pertama tidak menjadi manusia palsu, dan kedua bebas dari penyakit dengki.

    Suami yang tidak palsu ialah yang memenuhi sifat-sifat suami, tugas hak dan kewajibannya sebagai suami, demikian pula istri yang tidak palsu, bapak, ibu, kakak, dan adik, guru dan murid, dan sebagainya.

    Isim mesti cocok dengan musamma, nama mesti cocok dengan yang diberi nama, jangan mengaku atau menamakan diri dokter bila tidak tahu ilmu kedokteran, dan tidak sanggup mengamalkannya, jangan menjadi bapak yang tidak sanggup bertindak sesuai dengan kata-kata bapak, kasih sayang yang tidak menghalangi kelancaran didikan dan ajaran, nasehat dan teguran.

    The father acts according to way a father, should acts who love his son.
    The son acts according to way a son, should acts who love his father.

    Dan dia menjadi seorang muslim, ia mesti bertindak, bergerak dan berfikir, berkata dan bersikap sesuai dengan agamanya bersih dari sifat-siafat kemunafikan, lisan, perbuatan dan iman selalu searah, setujuan.

    Adapun sifat yang kedua yang dimiliki orang itu ialah kebebasan dirinya dari rasa hasud, memberi kesempatan kepada sesama hidupnya untuk mendapat kemajuan memberi kesempatan bagi orang yang berbakat untuk memilki keahlian.

    Panas hati karena melihat orang yang dianugrahi kemajuan, lalu dia meniru dan berusaha seperti dia,, itu dibenarkan dan bukan satu kesalahan, akan tetapi panas hati yang disertai tindakan jahat untuk menggagalkan usaha orang kearah kemajuan dan kebahagiaan itu tercela, dan itulah yang dinamakan hasud.

    Bila arti dari tiap “ kata-kata “ merupakan jaminan, yang dinamakan mu’min pasti menjadi jaminan akan keteguhan imannya, yang dapat dipercaya tidak akan khianat, ikhwatu imannya pasti merupakan jaminan akan adanya sifat tolong-menolong dan kuat-menguatkan tentu mudah dan aman hubungan dan muammalah, tidak akan memadhorotkan orang dan tidak akan saling memadharotkan, sesuai dengan qaidah Rasulullah SAW, La dlarara wala dlirara” artinya : “Tidak memadharatkan orang lain dan tidak saling memadharatkan”.

    Bila arti dari kata-kata pemimpni dan yang dipimpin memenuhi artinya, dan kata-kata pembangunan itu benar-benar mengandung arti pembangunan lahir dan batin tentu akan terasa kenikmatannya dikedua belah pihak.

    “Manusia surga hidupnya didunia dan Rasulullah memberi nama “Min ahli jannah” itu kepada manusia yang masih hidup dan beramal diatas dunia sekarang, yakni manusia yang sepert itulah yang dibutuhkan untuk membangun disini, karena dia ikhlas membina disana.

    Membina akhirat, beruasaha untuk mendapat gelar min ahli jannah, medan juangnya didunia, dan waktunya sekarang, dan buahnya akan menjadi kenyataan didunia dan diakhirat, berjuang dibidang agama islam atau membina akhirat tidak berarti tidak turut membangun Negara didunia ini, sebab manusia palsu, kata-kata palsu, dan gerak tindak yang palsu semuanya itu agan menggagalkan pembangunan yang diharapkan.

    Iri hati, panas hati yang artinya tidak mau ketinggalan, adalah sifat manusiawi, yang banyak manfaatnya bila dihentikan pada batasnya, dan dijadikan pembangkit semangat untuk kerja keras mengejar kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh orang lain dengan jalan yang sah.
    Dan sebaliknya, bila panas hati melampaui batas, menggerakkan kedengkian dan hasud yang diiringi perbuatan dzolim, akan menghambat dan menggagalkan rencana yang baik dan cita-cita yang tinggi.

    Rasulullah SAW mengajarkan agar kita iri, dengan arti panas hati yang membangkitkan semangat kerja bila melihat orang berilmu dan dengan mudah dan lancar mengamalkannya, atau orang yang mendapat harta atau kemajuan dalam perusahaan yang dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Rasulullah SAW bersabda :

    “Tidak dibenarkan iri hati kecuali dalam dua perkara; pertama, seorang yang Allah berikan kepadanya ilmu, Al-Qur’an ia membacanya dengan mendalam siang malam, lalu terdengar oleh tetangganya lalu ia berkata; saya sangat tertarik ingin diberi anugrah seperti yang diberikan kepadanya dan saya mengamalkannya seperti yang diamalkannya. Dan yang kedua; ialah seorang yang diberi harta oleh Allah dan ia nafkahkan dalam urusan-urusan yang hak, maka ia berkata seorang laki-laki, saya sangat menginginkan diberi harta seperti yang diberikan kepadanya dan saya dapat beramal sebagaimana ia amalkan”. (H.R. Al-Bukhori)

    Manusia yang tidak palsu, dan bebas dari hasad digelari “ahlu jannah”, yang membina akhirat untuk kelancaran dan hasilnya pembangunan didunia ini.
    Allah berfirman Q.S. Asy-Syura : 20

    “Barangsiapa menginginkan hasil tanaman akhirat. Kami akan berikan tambahan (keuntungan) bagi dia, dan barangsiapa yang (hanya) menginginkan hasil tanaman dunia saja, kami akan berikan kepadanya, tapi diakhirat dia tidak akan mendapat bagian apa-apa. (Q.S. Asy-Syura ayat 20)

    Mengorbankan akhirat untuk keuntungan dunia hanya dapat keuntungan dunia saja, tapi mengorbankan dunia untuk akhirat, akan mendapat keuntungan dunia akhirat.

    “Korbankan duniamu untuk akhiratmu kamu akan mendapatkan keduanya”.
    Sebagai penutup baik kita catat disini sebuah hadits riwayat Al-Bukhori, Rasulullah SAW bewrsabda:

    “Barangsiapa yang ingin melihat seseorang dari ahli jannah lihatlah orang ini”
    Yang dimaksud Rasulullah SAW ialah seoarang Badwi setelah menerima ajaran-ajaran islam dari rasulullah SAW dia meyatakan : “Demi Allah jiwa ragaku ada pada tangan kekuasaan-Nya, saya tidak akan menambah (ajaran Islam) dari ini”. Demikian diriwayatkan oleh Al-Bukhori.

    Dan dalam riwayat Muslim ada tambahan keterangan : “Apabila ia benar-benar berpegang teguh atas apa yang diperintahkan (disyariatkan tan pa tambahan bid’ah) ia pasti masuk surga.

  • Email This Post Email This Post Print This Post Print This Post
    473 views
    1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
    Loading ... Loading ...
  1. #1 Nanang Buchori Muslim
    November 2nd, 2009 at 5:42 am

    innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun, allohumma ajirnii fii mushibatii wakhluflii khoyron minhaa, Alloohummaghfirlahu warhamhu.Muda-mudahan setiap semangat jihad beliau menjadi semangat bagi penerusnya agar mampu menegakkan syiar Islam. Amiien

    Post ReplyPost Reply
  2. #2 rohmat
    December 10th, 2009 at 3:43 pm

    assalamualaikum maaf sebelumnya artikel antum saya copy karena untuk bisa saya sebarkan ke khalayak untuk menjadikan lbih bermanfaat,amin,terima kasih jazakallahu

    Post ReplyPost Reply
Leave a Comment